MENTAL HEALTH

    Kesehatan mental merupakan keadaan psikologis dan emosional yang memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi seseorang. Kesehatan mental sama halnya dengan kesehatan fisik yang berperan sangat penting. Menurut WHO, orang yang memiliki  penyakit mental bisa meninggal lebih cepat 10 sampai 20 tahun dari orang normal. Oleh karena itu, karena kita masih muda dan sebelum semakin berumur hidup ini harus dinikmati sebanyak-banyaknya.  Menurut laporan penelitian American Psychological Association (APA) pada tahun 2018 yang berjudul "Stress in America: Generation Z", anak-anak muda yang masih berusia 15-21 tahun adalah kelompok usia manusia yang memiliki kondisi kesehatan mental terburuk dibandingkan dengan generasi lainnya. Generasi Z merupakan sekumpulan orang-orang yang lahir dari tahun 1993--2005. 

    Menurut WHO, mental health merupakan kondisi kesejahteraan yang dialami individu, yang bisa mengelola emosi di dalam dirinya, untuk bekerja secara produktif, dan dapat berperan di dalam kelompoknya. Selain itu, menurut UU RI No. 18 Tahun 2014 mengatakan bahwa mental health adalah kondisi dimana seseorang mengalami gangguan dalam berperilaku, berpikir, dan berperasaan. Apabila kondisi tersebut tidak berjalan dengan baik bisa menghambat perilaku manusia. Di era globalisasi ini, telah banyak membawa perubahan kepada para generasi Z ini. Sebuah penelitian mengenai penggunaan media yang menjadikan 2000 orang generasi Z sebagai responden. The Rideout, Roberts, and Foehr untuk Kaiser Family Foundation (2010) melaporkan bahwa para generasi Z ini bisa menghabiskan 8 jam sehari untuk menggunakan perangkat elektronik. Sudah bisa dibayangkans sendiri karena selalu memegang handphone, banyaknya informasi yang beredar di sekitarnya menjadi tak terbendung. Banyaknya informasi yang beredarlah yang membuat generasi Z ini semakin paham dengan permasalahan yang ada. 

    Akhir-akhir ini kita sering menjumpai baik di media elektonik, seperti televisi maupun media cetak, seperti koran yang membahas kasus kesehatan mental ini. Sampai saat ini, masih banyak ditemukan penanganan yang kurang tepat dalam menangani masalah kesehatan mental ini. Banyaknya orang-orang di sekitar penderita yang mengejek penyakit ini membuat para penderita semakin kecil harapannya untuk sembuh. Ada beberapa macam gangguan kesehatan mental, yaitu depresi psikopat, skizofrenia, anti sosial, bipolar disorder, dsb. 

    Berdasarkan data dari Riskesdas di Indonesia sendiri terdapat 14 juta orang berusia 15 tahun ke atas yang mengalami gangguan mental emosional berupa depresi dan kecemasan. Sedangkan yang mengalami gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia sebanyak 400 ribu orang. Seiring berjalannya waktu hal tersebut akan terus bertambah yang dapat menjadi beban negara karena berkurangnya produktivitas manusia. Penyebab tingginya masalah tersebut adalah kurang terbukanya masyarakat akan hal tersebut. Masyarakat juga menganggap bahwa masalah kesehatan mental bukanlah hal yang serius. 

    Untuk menghadapi masalah ini secara optimal bagi individu, masyarakat, dan keluarga dapat dilakukan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan dan rehabilitatif. Pendekatan promotif dilakukan untuk menghilangkan diskrimasi terhadap orang yang punya penyakit mental dan memberikan pemahaman tentang kesehatan jiwa. Oleh sebab itu, pendekatan ini sangat penting dilakukan di lingkungan masyarakat, lingkungan pendidikan, lingkungan sekitar rumah, lingkungan perkantoran, dan bahkan media massa. 

    Selanjutnya pendekatan preventif bertujuan mencegah timbul/kambuhnya penyakit mental ini terjadi pada setiap individu. Untuk mengurangi timbulnya penyakit mental ini setiap undividu dapat melakukan berbagai cara. Pertama, melakukan aktivitas fisik dengan cara berolahraga. Berolahraga bisa memproduksi hormon endorfin sehingga dapat meredakan stress dan mengendalikan mood. Kedua, makan makanan yang bergizi. Makanan yang bergizi sudah pasti mengandung karbohidrat, vitamin, mineral, protein, dan juga mengandung serat. Apalagi asupan nutrisi terpenuhi, dapat menjaga kesehatan mental secara langsung maupun tidak langsung. 

    Ketiga, membuat rutinitas diri yang membuat kita sibuk. Jika kita memiliki banyak kesibukan, kita pasti lupa dengan masalah yang ada. Kita bisa menonton film, membaca buku, atau bahkan keliling-keliling perumahan agar tidak jenuh. Terakhir, menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat. Menjaga komunikasi dengan mereka sangat penting. Hal ini disebabkan merekalah yang bisa kita bagikan kekhawatiran dan keresahan apa yang kita alami.

    Pendekatan selanjutnya yaitu kuratif yang memberikan pelayanan kesehatan kepada orang tersebut. Tindakan ini bertujuan untuk pengendalian, penyembuhan, dan pemulihan penyakit. Kegiatan ini dilakukan di fasilitas layanan kesehatan jiwa. Pendekatan ini dilakukan dengan beberapa sifat yaitu reaktif. Dokter lah yang menunggu pasien tersebut datang saat mengalami masalah. Kedua, sifat proaktif yang tidak menunggu masalah datang, tetapi para petugas kesehatan lah yang terjun langsung untuk mencari masalah yang terjadi di masyarakat.

     Ketiga, melihat manusia secara utuh dengan menggunakan pendekatan holistik. Penyakit mental ini tidak disebabkan karena terganggunya sistem biologis tetapi karena faktor sosial sekitarnya. Terakhir, pendekatan rehabilitatif. Upaya rehabilitatif ini yaitu rehabilitatif psikiatrik, psikososial, serta rehabilitatif sosial yang dapat dilaksanakan dalam panti sosial, masyarakat, dan keluarga. Pendekatan ini bertujuan untuk mempersiapkan para ODGJ agar mandiri dalam kehidupan masyarakat. 

    Berdasarkan data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyakit mental health di Indonesia ini masih butuh perhatian lebih. Banyak masyarakat juga yang masih menganggap remeh hal ini. Padahal kesehatan mental juga berpengaruh terhadap hasil kerja seseorang. Bahkan orang-orang di sekitar penderita pun masih menganggap remeh hal seperti ini dan tidak peduli dengan hal ini. Seharusnya, orang di sekitar penderita harus memberi semangat kepada penderita tersebut supaya cepat sembuh dan segera membaik. 

Comments